Arahan Mendikdasmen RI /Sekum PP Muhammadiyah: Prof. Dr. K.H. Abdul Mu’ti, M.Ed dalam acara Silaturrahim Bersama Keluarga Besar Pesantren Darul Arqam Wil. Sulsel Gombara Makassar

Penyusun: Subandi Firdaus, S.Pd.,M.Pd.,Gr.
(Kepala MA Darul Arqam Gombara)
Kedatangan Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) RI yang juga Sekretris Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah menjadi anugrah bagi Pesantren Muhammadiyah Wilayah Sulsel Darul Arqam Gombara Makassar. Momen silaturrahim yang sangat berharga ini tidak disia-siakan oleh segenap Keluarga Besar Gombara untuk mendapatkan wejangan dan suntikan motivasi, terutama bagi seluruh santri dan santriwati yang sedang menempuh pendidikan.
Pesan Mendikdasmen RI tersebut dalam pidatonya menekankan pentingnya ilmu bagi generasi muda calon generasi Emas Indonesia 2045. beliau banyak mengutip padanan kata علم dalam Al-Qur’an.
Beberapa pesan penting beliau adalah:
1. Menjadikan Ayat-Ayat Ilmu sebagai Mahfuzhat wajib bagi santri
Para ustadz dan ustadzah mulai sekarang harus memogramkan ayat-ayat tentang ilmu menjadi mahfuzhat bagi santri, agar menjadi energi dalam menuntut ilmu dan menguatkan iman.
Al-Qur’an sangat memuliakan orang yang berilmu pengetahuan, bahkan orang yang berilmu tidak hanya dijanjikan menjadi pintar tetapi juga menjadi khalifah . Firman Allah SWT:
يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ
“Allah akan mengangkat derajat orang-orang yang beriman di antara kamu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat.”
(QS. Al-Mujadilah: 11)
2. Menjadikan Al-Qur’an sebagai Sumber Motivasi
Sebanyak dua persen ayat dalam Al-Qur’an berbicara tentang ilmu, walaupun dalam berbagai fungsi.
• Al-Qur’an (القرآن): Berfungsi sebagai bacaan
• Al-Kitab (الكتاب): Berfungsi sebagai tulisan yang dibukukan
• Adz-Dzikr (الذكر): Berfungsi sebagai peringingat atau peringatan bagi orang yang beriman
• Mau’izhah Hasanah (موعظة حسنة): Berfungsi sebagai pemberi nasihat yang baik
• Al-Furqan (الفرقان): Berfungsi sebagai pembeda yang haq dan yang batil
Sejalan degan ini, santri harus menjadikan Al-Qur’an tidak hanya sebagai bacaan yang dihafal, tetapi juga harus memotivasi santri untuk menulis, pengingat, nasehat yang baik dan memberi pemahaman agar kita mampu membedakan mana yang benar dan mana yang salah.
Allah berfirman:
هَٰذَا بَيَانٌ لِّلنَّاسِ وَهُدًى وَمَوْعِظَةٌ لِّلْمُتَّقِينَ
“Ini adalah penjelasan bagi manusia, petunjuk dan pelajaran bagi orang-orang yang bertakwa.”
(QS. Ali ‘Imran: 138)
Islam sangat menekankan pentingnya menuntut ilmu. Salah satu Firman Allah SWT berbunyi:
قُلْ هَلْ يَسْتَوِي الَّذِينَ يَعْلَمُونَ وَالَّذِينَ لَا يَعْلَمُونَ
“Katakanlah: Apakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?”
(QS. Az-Zumar: 9)
3. Manusia Diangkat sebagai Khalifah karena Ilmu
Allah memilih dan menjadikan manusia sebagai khalifah, bukan malaikat. Mengapa? karena Allah membekali manusia dengan ilmu:
وَعَلَّمَ آدَمَ الْأَسْمَاءَ كُلَّهَا
“Dan Dia mengajarkan kepada Adam nama-nama (benda) semuanya.”
(QS. Al-Baqarah: 31)
Ini menunjukkan kemuliaan manusia terletak pada ilmu, bukan pada ketaatan ibadah seperti malaikat.
4. Ilmu Sebagai Kunci Kesuksesan
Salah satu sahabat Nabi SAW yang terkenal sangat cerdas, Ali bin Abi Thalib RA. Beliau diakui kecerdasannya. Dalam hadis yang masyhur Nabi SAW bersabda:
أَنَا مَدِينَةُ الْعِلْمِ وَعَلِيٌّ بَابُهَا
“Aku adalah kota ilmu dan Ali adalah pintunya.”
Imam Ali Bin Abi Thalin ini pernah mengeluarkan satu ungkapan yang sangat familiar di telinga umat Islam. Ada sebagian orang mengira itu adalah hadis. Ungkapan beliau adalah:
مَنْ أَرَادَ الدُّنْيَا فَعَلَيْهِ بِالْعِلْمِ، وَمَنْ أَرَادَ الْآخِرَةَ فَعَلَيْهِ بِالْعِلْمِ، وَمَنْ أَرَادَهُمَا فَعَلَيْهِ بِالْعِلْمِ
“Siapa yang menginginkan kebahagiaan dunia harus dengan ilmu, siapa yang menghendaki kebahagiaan akhirat harus dengan ilmu, dan siapa yang menginginkan kebahagiaan keduanya (dunia dan akhirat) harus dengan ilmu”.
Ilmu adalah kunci kesuksesan dunia dan akhirat dan untuk meraih ilmu santri hantri marus memiliki yang namanya Himmah (Tekad yang kuat), semangat dan konsistensi dalam kebiasaan baik
5. Membangun Kebiasaan Anak Hebat Indonesia (Generasi Emas 2045)
Santri hari ini adalah wajah Indonesia masa depan. Untuk mewujudkan Indonesia Emas tahun 2045 sebagaimana yang dicanangkan oleh Bapak Presiden Prabowo melalui Asta Cita, anak Indonesia harus menerapkan Tujuh Kebiasaan Baik:
a. Bangun Pagi
Anak Pesantren bukan hanya bangun pagi, bahkan mereka sudah bangun lebih awal dan melaksanakan shalat tahajjud, murojaah hafalan, dan belajar hadis. Sebagaimana Firman Allah:
وَمِنَ اللَّيْلِ فَتَهَجَّدْ بِهِ نَافِلَةً لَّكَ
“Dan pada sebagian malam hari bertahajjudlah kamu.”
(QS. Al-Isra: 79)
Para ulama besar yang merupakan ilmuan Islam seperti Imam Bukhari dan Al-Khawarizmi dari Samarkandi (Uzbekistan) adalah orang-orang yang terkenal kuat menuntut ilmu dan mampu menjaga kebermanfaatan waktu agar tidak terbuang sia-sia. sehingga menjadikan mereka sukses dalam mengembangkan ilmu. Bahkan Al Khawarizmi adalah ilmuan penemu angka 0 (Nol) yang angka tersebut sangat fundamental. Tanpa angka Nol apa jadinya bilangan saat ini.
Kisah inspiratif lain yang bisa dijadikan pelajaran adalah kisan Imam Ibnu Hajar al-Asqalani. Beliau dalam sejarah pernah merasakan keputusasaan dalam belajar sehingga lari dari sekolah (pesantren) dan pulang ke rumah. Dalam perjalanan melihat ada air menetes ke batu besar lalu membuat batu tersebut berlubang. Melihat batu sekeras itu dapat berlubang oleh air yang lembut maka Ibnu Hajar mendapat inspirasi. Batu yang keras saja dapat tembus dengan kesabaran air. Kisah ulama ini mengajarkan pentingnya ketekunan dalam belajar.
b. Membiasakan Ibadah dan Perbanyak Berdoa
Firman Allah:
وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ
“Berdoalah kepada-Ku, niscaya Aku kabulkan.”
(QS. Ghafir: 60)
c. Membiasakan Berolahraga
Hadis Nabi ﷺ:
الْمُؤْمِنُ الْقَوِيُّ خَيْرٌ وَأَحَبُّ إِلَى اللَّهِ مِنَ الْمُؤْمِنِ الضَّعِيفِ
“Mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai Allah daripada mukmin yang lemah.”
(HR. Muslim)
d. Gemar Belajar
Perintah pertama dalam Islam:
اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ
“Bacalah dengan nama Tuhanmu yang menciptakan.”
(QS. Al-‘Alaq: 1)
Pesan Ali bin Abi Thalib:
قَيِّدُوا الْعِلْمَ بِالْكِتَابَةِ
“Ikatlah ilmu dengan menulis.”
e. Makan Sehat dan Bergizi
Firman Allah:
يَا أَيُّهَا النَّاسُ كُلُوا مِمَّا فِي الْأَرْضِ حَلَالًا طَيِّبًا
“Wahai manusia, makanlah dari (makanan) yang halal lagi baik.”
(QS. Al-Baqarah: 168)
f. Bermasyarakat dan Bersosialisasi
Hadis Nabi ﷺ:
الْمُؤْمِنُ الَّذِي يُخَالِطُ النَّاسَ وَيَصْبِرُ عَلَى أَذَاهُمْ خَيْرٌ
“Mukmin yang bergaul dengan manusia dan sabar atas gangguan mereka lebih baik.”
(HR. Tirmidzi)
g. Tidur Lebih Awal
Hadis:
كَانَ النَّبِيُّ ﷺ يَكْرَهُ النَّوْمَ قَبْلَ الْعِشَاءِ وَالْحَدِيثَ بَعْدَهَا
“Nabi tidak menyukai tidur sebelum Isya dan berbincang setelahnya.”
(HR. Bukhari & Muslim)
Penutup
Dengan menjadikan Al-Qur’an sebagai pedoman, ilmu sebagai jalan hidup, dan kebiasaan baik sebagai karakter, akan lahir generasi:
➡️ Beriman (مؤمن)
➡️ Berilmu (عالم)
➡️ Berakhlak (صالح)
Menuju Indonesia Emas 2045.

Leave a Replay